|
D.O.L.L
Doryne Orinthia Leedan Larz . Call me Orin . dorynelarz.blogspot.com "I'm as cold as the snow.. can you make me warm?" Tagboard.
Cbox is highly recommended ;D
Wishlist.
Yr WishesYr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Affilates.
Place links here .
utuutu Friend Friend Friend Friend Friend Friend Archives.
Credits.
This blogskin is proudly brought to you by♥♥ © All Rights Reserved 09
|
Minggu, 11 April 2010
Kontrak Sihir Who should I believe, Josephine? Orin duduk diam di depan meja rias kamarnya, Josephine si boneka porselen berambut sehitam pemiliknya berada aman dalam pelukan gadis kecil itu. Orin sedang mengunci diri di kamar karena kedatangan Wolfram—ayah kandungnya yang begitu tiba-tiba. Hendak mengajaknya kembali pulang ke Inggris setelah membiarkan dirinya hidup bersama kakek dan nenek di Reykjavik selama enam tahun. Bukan berarti ia tak ingin. Sesungguhnya, ia sangat bahagia karena akhirnya hari yang ia nanti-nantikan tiba juga. Tak ada seorang pun yang tahu betapa inginnya ia bertemu kembali dengan ayahnya. Tak ada seorang pun yang tahu betapa inginnya ia tinggal bersama dengan pria itu dan bermanja di pelukannya. Meski pria itu terasa begitu asing bagi Orin. Perlahan tangannya bergerak membuka laci meja dan mengambil sebuah inhaler untuk mengurangi sesak nafas karena asma yang ia derita. Inhalernya terlepas dari pegangan tangannya saat ia hendak menempelkan inhaler tersebut ke mulutnya; kamarnya tiba-tiba berguncang seolah diserang gempa besar. Orin merunduk, bersembunyi di bawah meja. Satu-satunya nasehat yang ia ingat dari guru sekolah dasarnya untuk menyelamatkan diri bila terjadi gempa. Gadis kecil itu tidak berteriak minta tolong, hanya diam sambil memeluk Josephine erat-erat dan mengatupkan kelopak matanya. Dan membukanya kembali ketika getaran tersebut terhenti bersamaan dengan serangan asmanya. Untuk beberapa saat gadis kecil itu bergeming, hanya bola mata sewarna samudera biru miliknya yang bergerak-gerak memandangi ruangan yang kini sama sekali berbeda dengan kamar tidurnya. Bau kayu usang menyengat dari ruangan berkesan kuno tersebut. Orin keluar dari kolong meja dan berdiri—masih memeluk Josephine. Jantungnya berdebar karena rasa takut yang menderanya. Ia tak tahu dimana ia berada. “Kalian adalah orang-orang terpilih dan ini adalah sekolah terbaik untuk kalian," tiba-tiba sebuah suara datang dari arah belakang, membuat Orin refleks membalikkan tubuhnya dan ia terkesiap. Di hadapannya kini ada seorang kakek tua berjanggut putih yang panjang—ia seperti pernah melihatnya dalam sebuah kartu hadiah di kotak coklat kodok. Kakek tua itu tersenyum hangat ke arahnya sembari mengelus seekor burung yang nampak aneh dalam buaiannya. Kakek itu terus berbicara—terdengar seperti nasehat mengenai cara bertahan di suatu sekolah. Orin mengernyit. Ia tak memahami apa yang sedang diujarkan oleh kakek tua itu. Dipeluknya Josephine semakin erat ketika kakinya perlahan melangkah maju begitu saja mendekati meja usang tersebut. Sebuah piala dan selembar perkamen muncul dari kenihilan setelah kakek tua tersebut melambaikan tangannya. Orin meraih pena bulu yang ada di dekat perkamen tersebut dan menggoreskannya di atas perkamen berlambang IH.
09.16 |