D.O.L.L
Photobucket

Doryne Orinthia Leedan Larz .
Call me Orin .
dorynelarz.blogspot.com
"I'm as cold as the snow.. can you make me warm?"





Tagboard.
Cbox is highly recommended ;D


Wishlist.
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes


Affilates.
Place links here .

utuutu
Friend
Friend
Friend
Friend
Friend
Friend


Archives.
April 2010
Juni 2010



Credits.
This blogskin is proudly brought to you by


© All Rights Reserved 09








♥ Orin ♥

Minggu, 11 April 2010
Waiting Awesomely B-)

Ternyata iklim di London hampir sama dengan iklim di Reykjavik. Di musim panas, suhu paling tinggi sekitar 20 derajat celcius dan di musim dingin sekitar minus 10. Hal itu membuat Orin tidak terlalu merindukan Islandia, terutama karena sekarang ia bisa hidup bersama dengan ayah kandungnya meski untuk itu ia juga harus tinggal satu atap dengan kakak sepupunya yang hiperaktif dan tiada-hari-tanpa-menggombal itu.

Orin melangkah perlahan dengan Josephine dalam dekapan. Tak sedetik pun boneka itu ia lepas sejak kedatangannya ke Leaky Cauldron. Suasana baru selalu membuatnya gugup dan Josephine mampu meringankan perasaan tersebut. Gadis kecil itu sedang kebingungan sebenarnya. Ramainya jalan Diagon Alley membuatnya terpisah dari Raphael—bodyguardnya. Ia terlalu asyik mengamati tingkah laku orang-orang sehingga tidak menyadari bahwa ia sudah terpisah dari pria muda itu. Ia mencari dan mencari. Bola mata sewarna samuderanya tak berhenti bergulir mencari-cari sosok Raphael dan tidak juga ia temukan.

Orin hanya diam. Tidak berteriak memanggil seperti anak-anak seusianya jika terpisah dari orang tuanya. Orin hanya diam, tak berekspresi. Hanya dekapan pada Josephine yang semakin erat yang menunjukkan bahwa ia panik.

Kembali ke Leaky Cauldron. Akhirnya Orin memutuskan hal tersebut. Berharap Raphael akan melakukan hal yang sama dan segera menemukannya. Ia tak suka berada di tempat asing sendirian. Dan ia akan pastikan untuk menghukum Raphael saat mereka bertemu lagi nanti. Orin berjalan mengikuti orang-orang di depannya, berharap mereka juga sedang mengarah menuju penginapan reyot tersebut. Ia tak ingat jalannya dan ia tak berani bertanya. Beruntunglah Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Ia sampai di Leaky Cauldron dengan selamat. Kepalanya tertunduk dan ia melangkah masuk ke dalam bar tersebut. Tidak memperhatikan jalan.

BRUK

Ia menabrak seseorang. Josephine terlepas dari pelukannya dan jatuh ke lantai. Orin segera berjongkok untuk mengambil Josephine, menepuk-nepuk boneka itu agar debu-debu yang menempel terlepas. Debu bisa membuat asmanya kambuh dan ia tak ingin itu terjadi.

Haruskah ia minta maaf pada pemuda berambut pirang yang tadi ditabraknya? Atau ia sebaiknya pergi saja?



Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan tentang keadaannya langsung terdengar di telinganya—bersahutan. Pertama dari seorang anak laki-laki sebaya yang sedang menghabiskan coklat (katanya) sambil duduk bersila di dekat pintu masuk dan satu lagi dari pemuda pirang yang tadi ia tabrak. Pemuda yang baik karena selain tidak memarahi Orin, ia juga menanyakan keadaan Josephine. Orin berdiri setelah memastikan Josephine telah bersih dari debu-debu yang menempel, kembali memeluk boneka tersebut.

Bagaimana ini, Josephine?

Orin menatap kedua orang tersebut bergantian—ekspresinya tidak berubah. Tetap datar seperti biasa. Cenderung terlihat seperti sedang melamun. Perlahan gadis kecil itu menganggukkan kepala dan menempelkan dagunya ke puncak kepala Josephine. Ia tidak suka menatap mata orang berlama-lama apalagi berinteraksi dengan mereka. Sikapnya tersebut telah membuat teman-teman sekelasnya dulu menganggapnya sombong. Ia tak peduli. Selama ada Josephine di pelukannya, ia akan baik-baik saja. Ia hanya butuh Josephine sebagai sahabat, bukan manusia lain.

Manusia itu selalu mengecewakan, bukan?

Orin masih ingat semua kata-kata yang dilontarkan oleh teman-teman sekelasnya tentang dirinya. Hanya karena Orin tidak pandai bergaul dan tidak terlalu suka bersosialisasi, mereka membuat tuduhan-tuduhan dengan seenaknya. Katanya, Orin sok kaya. Tidak mau berbaur dengan yang lebih miskin darinya. Padahal sebenarnya Orin senang melihat teman-temannya berbincang-bincang dengan akrab dengannya. Bercerita tentang liburan, tentang hewan peliharaan, tentang peri-peri rumah yang suka menghukum diri sendiri dan tentang banyak hal lainnya.

Namun, ia perlahan ditinggalkan hanya karena ia tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Mereka semua salah paham pada sikapnya. Orin di cap dingin. Ia sedih, tapi ia tetap diam. Seolah membenarkan tuduhan-tuduhan tersebut. Pada Josephine lah ia mengungkapkan segalanya.

Ah, ya. Mungkin ia sebaiknya minta maaf sekarang.

"Ma-maaf."



"Tidak apa-apa," ujar pemuda berambut pirang yang berwajah baik hati itu. Berbeda sekali dengan Kenneth yang kalau berbicara maka isi kata-katanya hampir seluruhnya kata-kata gombal yang membuat nafas Orin sesak. Tapi, pemuda di hadapannya itu baru bertemu dengan Orin dan belum tahu seperti apa Orin sebenarnya. Mungkin saja dalam beberapa waktu ke depan, pemuda itu akan menyadari bahwa Orin adalah gadis kecil membosankan yang tidak banyak bicara dan berekspresi. Mungkin.

Anak laki-laki pemakan coklat itu kemudian membuka pintu yang berada di sampingnya—pintu kamar penginapannya. Orin tertegun. Ia baru sadar bahwa mencari Raphael hingga ke penginapan Leaky Cauldron adalah sia-sia. Mereka tidak menginap di sini. Seharusnya Orin menunggu Raphael di bar saja. Namun Orin bergeming. Ia tak suka berada di bar yang begitu ramai dengan hiruk-pikuk percakapan dan bau kayu apak yang tajam menusuk hidung. Berada di sini lebih nyaman dan tenang.

“Temani aku di sini, nanti kubagi coklat,” ujar anak laki-laki pemakan coklat itu mengajak Orin dan pemuda berambut pirang masuk ke kamarnya.

Untuk apa?

Orin melirik ke arah pemuda berambut pirang yang sekarang sedang tersenyum—menerima ajakan si anak laki-laki pemakan coklat lalu memperkenalkan namanya. Calvin Cornwell. Orin merekam nama tersebut dalam memorinya. Tidak akan sulit mengenali pemuda berambut pirang itu jika suatu hari nanti mereka bertemu lagi. Mungkin di tempat lain. Dunia itu sempit, kau tahu?

"Dan... apakah kamu murid baru di Hogwarts? Calon, hmm?"—Mungkin juga di Hogwarts.

Orin pada akhirnya mengangguk, menerima tawaran dari anak laki-laki pemakan coklat itu. Mungkin anak laki-laki pemakan coklat itu hanya ingin mengajak mereka bermain. Ia tak peduli meski dengan masuk ke kamar anak itu, maka kemungkinan Raphael akan menemukannya semakin kecil. Anggap saja itu hukuman untuk bodyguardnya karena telah lalai menjalankan tugas.

"Orin," ujar gadis kecil itu memperkenalkan namanya—kepalanya tertunduk, "Calon murid Hogwarts." Ia lalu menunjuk ke arah bonekanya, " Ini Josephine."

21.34