|
D.O.L.L
Doryne Orinthia Leedan Larz . Call me Orin . dorynelarz.blogspot.com "I'm as cold as the snow.. can you make me warm?" Tagboard.
Cbox is highly recommended ;D
Wishlist.
Yr WishesYr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Yr Wishes Affilates.
Place links here .
utuutu Friend Friend Friend Friend Friend Friend Archives.
Credits.
This blogskin is proudly brought to you by♥♥ © All Rights Reserved 09
|
Minggu, 11 April 2010
Surat Tahun Pertama Pada akhirnya, Orin tetap dibawa pulang ke London oleh ayahnya—Wolfram. Ia tak banyak menggerutu ataupun menyampaikan keinginannya. Ia hanya diam dan memeluk Josephine seperti biasanya. Hanya boneka porselen itu yang menjadi saksi bisu dari perasaan Orin. Gadis kecil itu menggenggam erat telapak tangan hangat Wolfram saat mereka berjalan meninggalkan rumah keluarga ibunya di Islandia dan berkali-kali ia mendongak dan mencuri pandang ke arah pria tersebut. Masih tak percaya bahwa pada akhirnya Wolfram ingat untuk menjemputnya sekalipun mungkin alasannya adalah karena usianya yang sudah menginjak sebelas. Genggamannya bahkan semakin erat ketika sensasi memusingkan terjadi tepat saat Wolfram menyentuh sebuah kaleng bekas minuman yang telah disihir menjadi portkey. Josephine tersimpan aman dalam saku di balik jaketnya. Beberapa saat kemudian, Orin telah tiba di London. Tepat di depan kediaman Larz. Rumah besar milik almarhum kakak Wolfram yang dihuni oleh kakak sepupu bernama Kenneth—siswa tahun keempat di Hogwarts. Hanya sedikit kenangan yang ia ingat tentang kakak sepupunya itu. Mereka sama-sama memiliki rambut sehitam tinta seperti yang memang menjadi ciri khas keluarga Larz. Selain itu, Orin sama sekali tidak ingat. Tempat baru selalu membuat Orin gugup, namun ia tidak menunjukkannya. Ia hanya memeluk Josephine dengan erat dan terus berjalan memasuki rumah besar tersebut bersama dengan Wolfram di sampingnya. Kenneth menyambutnya. Melontarkan pujian mengenai wajahnya, rambutnya dan juga kemiripannya dengan Josephine. Orin hanya memandangi anak laki-laki itu dengan tatapan heran sejenak sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan Kenneth untuk melihat kamar yang disediakan untuknya. Tak ada yang melihat semburat kemerahan yang muncul di kedua belah pipinya. Ia senang dipuji namun ia tak tahu bagaimana cara meresponi sebuah pujian dari seorang anak laki-laki yang telah merebut kasih sayang ayahnya selama enam tahun. Anak laki-laki yang diam-diam ia benci, yang seharusnya bersikap jahat sehingga kebenciannya beralasan. Pelayan mengantarnya sampai ke depan sebuah pintu bercat hijau muda—warna kesukaan Orin. Membukakan pintu dan mempersilakan Orin masuk. Pelayan itu kemudian dengan cekatan membereskan isi koper Orin yang berisi pakaian-pakaian kesayangannya ke dalam sebuah lemari antik putih dengan ukiran emas pada setiap sisinya. Ruangan itu adalah kamarnya. Temboknya di cat hijau pastel yang lembut dengan lukisan bunga-bunga kecil pada beberapa titik. Tempat tidurnya tepat berada sekitar dua meter di sisi kiri pintu masuk. Tempat tidur yang di desain serupa dengan gaya antik lemari bajunya yang bagian atasnya ditutupi dengan kelambu hijau muda. Ada dua buah jendela dengan tirai putih berenda mengapit sebuah pintu menuju balkon rumah. Orin terpesona—ia telah jatuh cinta pada kamar barunya. Ia melepas jaketnya, cuaca London panas jika dibandingkan dengan Reykjavik. Orin pun kemudian melangkah ke balkon dengan Josephine dalam pelukan. Pemandangan dari balkon membuat Orin tak mampu berkedip. Sebuah hutan buatan yang teduh terlihat. Ditambah sebuah danau mini dengan beberapa ekor bebek dan angsa berenang di atasnya. "Indah," ujar Orin dengan suara yang lembut. Bola mata aquamarine-nya sibuk menikmati pemandangan yang menyita perhatian si gadis kecil. Perhatiannya teralih ketika sebuah kepakan samar terdengar dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin jelas dan ia bisa melihat sebuah titik hitam di langit. Seekor burung hantu berwarna abu-abu cerah terbang ke arahnya—mendarat di pagar balkon dengan membawa sebuah amplop surat di paruhnya. Surat dari Hogwarts, seperti yang telah diceritakan oleh Wolfram. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya dan mengambil amplop kekuningan tersebut. Burung hantu itu pun kembali terbang dan menghilang di langit. Orin melangkah menuju sebuah tempat duduk berayun yang ada di balkon dan duduk di sana. Josephine ia letakkan di sampingnya. Surat itu pun ia buka. "Hogwarts. Josephine, kita akan ke Hogwarts bersama si kakak penggoda." 12.32 |