D.O.L.L
Photobucket

Doryne Orinthia Leedan Larz .
Call me Orin .
dorynelarz.blogspot.com
"I'm as cold as the snow.. can you make me warm?"





Tagboard.
Cbox is highly recommended ;D


Wishlist.
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes
Yr Wishes


Affilates.
Place links here .

utuutu
Friend
Friend
Friend
Friend
Friend
Friend


Archives.
April 2010
Juni 2010



Credits.
This blogskin is proudly brought to you by


© All Rights Reserved 09








♥ Orin ♥

Minggu, 11 April 2010
Leaky Cauldron

Tidak. Orin tidak akan menginap di tempat ini. Ia hanya datang kemari untuk berbelanja kebutuhan sekolahnya di Diagon Alley dan pulang setelahnya. Ia masih mengingini untuk tidur di kamar barunya yang indah. Ia rela bolak-balik London-Skotlandia daripada harus menginap di penginapan kumuh dengan bau kayu apak yang tajam. Orin mengernyit—menempelkan puncak kepala Josephine ke hidungnya seolah itu akan mengusir bau tersebut. Sedikit berhasil tapi tidak memuaskan. Orin mendengus. Bola mata sewarna samudera miliknya bergulir memperhatikan para entitas penyihir yang ada dalam ruangan tersebut. Semua terlihat tidak terganggu dengan penampilan bar tersebut. Bahkan mereka berbincang-bincang dengan seru—entah membahas topik apa.

"Nona, mau pesan minuman atau makanan?" tanya Raphael, bodyguard keluarga Larz yang diutus untuk menjaganya—melayaninya. Berbeda dengan Michelangelo yang melayani Kenneth si kakak sepupu genit, Raphael yang berambut pirang itu sama pendiamnya dengan Orin. Namun Raphael mahir melemparkan senyuman hangat, tidak seperti Orin yang tak pernah tersenyum. Orin mengangguk pelan dan berujar singkat pada Raphael, "Butterbeer. Dua gelas." Satu gelas untuk Josephine, tentu saja.

Ia pun mengikuti Raphael menuju ke meja konter. Tidak mau ditinggal menunggu dengan duduk di satu meja. Ia ingin memastikan Raphael memesan dengan benar—meski sesungguhnya hal tersebut tidak perlu diragukan. Raphael adalah seorang bodyguard profesional. Orin mengamati seorang anak kecil seusianya yang sedang mengantri di depan konter. Anak kecil itu menggandeng erat ibunya dan tersenyum ketika sebuah usapan lembut mendarat di kepalanya. Orin teringat pada almarhum ibunya meski hanya bayangan samar mengenai senyumannya dan suaranya yang lembut saat meninabobokan dirinya dulu. Didekapnya Josephine semakin erat dan ia mengalihkan pandangannya kembali ke konter. Orin menyadari bahwa Raphael tengah memperhatikan dirinya. Dan gadis kecil itu bersyukur Raphael tidak mengomentari apapun.

"Butterbeer dua gelas, please," ujar Raphael memesan pada seorang pegawai yang berdiri di balik konter.

20.41